Pages

Subscribe:

Sabtu, 15 Desember 2012

Cerita Kakek Tua Yang Baik Hati

Blog dongeng anak indonesia kali akan bercerita tentang seorang kakek tua yang baik hatinya. Dikisahkan dalam dongeng anak ini tinggalah seorang kakek tua sendiri di sebuah rumah tua yang berada di lereng sebuah gunung. Kakek ini tidak memiliki anak maupun cucu. Hidupnya sehari-hari hanya menggantungkan kepada kebun yang ada di sebelah rumahnya. Ternyata sang kakek adalah seorang petani bunga.

Dari hasil berkebun bunga tersebut, sang kakek hanya bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Dengan penuh semangat yang tersisa dalam kehidupannya kakek tersebut mampu turun naik bukit untuk mengambil sisa-sisa ranting pohon untuk dijadikan kayu bakar.

Pada suatu hari sang kakek jatuh sakit, karena tidak ada seorangpun yang menolong kakek, akhirnya si kakek jalan sendiri menuruni bukit untuk mencari seorang tabib yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

Ditengah jalan, si kakek berpapasan dengan seorang petani yang sedang duduk di pinggir jalan. Petani tersebut ternyata sedang memegangi perut sambil merintih kesakitan.

Si kakek tidak kuasa melihat si petani yang sedang merintih di pinggir jalan. "Kenapa kisanak?, apa yang sedang kau lakukan?" tanya si kakek kepada si petani. "Aduh....perutku sakit sekali, sudah 2 hari aku belum makan, akibat tanamanku tidak ada yang bisa menghasilkan" jawab si petani pada si kakek.

"Ambillah makanan yang aku bawa ini" kata si kakek sambil menyodorkan bungkusan makanan yang ia bawa untuk di perjalanan menuju tabib di kampung seberang. "Terima kasih, kek....kau sungguh baik sekali dan berhati mulia".

"Sudahlah, cepat makan makanan itu agar perutmu tidak sakit lagi" jawab si kakek menyuruh petani untuk memamakan makanan yang ia berikan.

"Terima kasih, kek" jawab petani, "Mohon pesanku, ambillah cangkul ini sebagai rasa terima kasihku, tolong jangan kau tolak pemberianku" sang petani memohon kepada si kakek.

"Baiklah, kalau itu maumu, aku bawa cangkul milikmu" kata si kakek, lalu kakek itu pamit kepada petani yang sudah memakan bungkusan makanan milik kakek tersebut.

Cangkul tersebut di bungkus dengan kain oleh si kakek, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke dusun seberang menemui tabib yang bisa mengobati sakitnya.

Namun di perjalanan si kakek merasa beban cangkul yang ia bungkus dan dibawanya menjadi sangat berat sekali. Ia penasaran kenapa cangkul yang ia bawa menjadi berat. Kemudian ia mencari tempat berteduh dan mulai membuka bungkusan cangkul tersebut.

"Hah...emas.!,..cangkul emas.??, kenapa cangkul ini berubah menjadi sebongkah emas?" si kakek terbelalak melihat cangkul yang ia bawa menjadi sebongkah emas yang sangat besar. Si kakekpun mengetahui bahwa petani yang ia tolong pasti bukan sembarang petani.

Kemudian si kakek segera membawa emas itu dan membagikannya kepada masyarakat yang ada di dusun terdekat. Orang-orang menjadi sangat senang atas pemberian emas sang kakek, dan akhirnya si Kakek di tolong oleh tabib dan tak lama kemudian si kakek pun sembuh dan menjadi kepala desa di dusunnya.

Hikmah dari dongeng anak indonesia kali ini adalah kita harus tetap menolong orang walaupun kita sendiri merasa perlu ditolong orang lain. Semoga dongeng anak indonesia bisa membawa manfaat kepada adik-adik semua.
Sumber: http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/06/dongeng-anak-indonesia-cerita-kakek-tua.html

Cerita Pak Pandir yang Lucu

Masih ingat dengan cerita Pak Pandir yang lucu?, nah kali ini blog dongeng anak indonesia akan bercerita tentang kisah Pak Pandir yang lucu. Adalah seorang Pak Pandir yang hidup dengan sederhana. Walau belum memiliki seorang istri, tak menyebabkan Pak Pandir murung dan bersedih. Setiap harinya ia selalu bergembira dan menjadi pusat perhatian orang dusun sekitarnya akibat keluguan yang sering ia lakukan. Walaupun demikian Pak Pandir adalah tipe orang yang sangat jujur.

Pada suatu hari Pak Pandir ingin menghadiri sebuah sayembara, dia nampak bergegas ingin berjalan ke acara itu. Sesampainya disana orang sudah banyak berkumpul di pinggir sungai untuk mengikuti sayembara yang diadakan kepala dusun tersebut.

Sang kepala dusun berkata,"Barang siapa yang bisa menyebrangi sungai ini, aku akan nikahkan dengan anak gadisku satu-satunya yang paling cantik di dusun ini".

Segeralah para pemuda-pemuda dusun itu bersiap-siap untuk berenang menyeberangi sungai tersebut. Ternyata sungai tersebut adalah sungai yang sangat berbahaya, sebab sudah banyak warga yang dimakan oleh buaya penghuni sungai itu.

Satu persatu pemuda dusun banyak yang gagal dan tewas dimakan buaya, sehingga pada akhirnya ada seorang laki-laki, tiba-tiba saja masuk kedalam sungai dan terus berenang hingga akhirnya sampai diujung sungai dan akhirnya muncul sebagai pemenang.

Sontak para warga kaget dan bergembira, akhirnya muncul seorang juara yang bisa menaklukkan sungai keramat tadi. Akhirnya kepala dusun menghampiri laki-laki tadi yang masih tersenggal-senggal nafasnya akibat berenang dengan cepat menyebrangi sungai yang penuh buaya tersebut.

Bukan main terkejutnya sang kepala dusun bahwa laki-laki tadi yang berhasil menyebrangi sungai bukan lain adalah Pak Pandir. "Hei, ternyata engkau Pandir yang telah berhasil menaklukan sungai ini, baiklah sekarang apa yang kau pinta dariku?", "Apakah kau ingin menikahi anakku atau kau ingin menggantikan aku sebagai kepala dusun ini. terserah engkau saja, akan aku berikan semua permintaanmun?", kata kepala dusun kepada Pak Pandir yang masih terengah-engah nafasnya.

"Maaf kepala dusun yang aku hormati, bukan aku menolak semua hadiahmu, tapi ijinkan aku untuk meminta sesuatu", kata Pak Pandir yang masih terbungkuk mengambil nafas panjang. "Baiklah, apa yang kau minta sebagai hadiah sayembara ini, Pak Pandir".

Pak Pandir menjawab,"Aku hanya ingin kau membawakan aku seseorang", "Seseorang?, siapa yang kau maksud, Pandir...apakah kau ingin aku membawakan anak gadisku kemari?", kata kepala dusun.

"Bukan, aku hanya ingin kau bawakan aku seseorang...seseorang yang telah mendorongku sehingga aku terjatuh ke sungai yang penuh dengan buaya lapar ini, walaupun aku orang paling jenaka di dusun ini, aku masih tetap ingin menikmati sisa hidupku dengan tenang", kata Pak Pandir yang langsung saja meledakkan tawa warga dusun yang mendengar permintaan Pak Pandir tersebut.

Nah hikmah dongeng anak Indonesia kali ini adalah kita tidak boleh lengah sedikitpun dalam kehidupan kita, selalu waspada agar kita selalu mendapatkan keselamatan dan keberkahan dalam hidup ini. 
Sumber: http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/07/kisag-anak-indonesia-cerita-pak-pandir.html

Kisah Bunga Kembang Sepatu Raksasa

Dongeng anak indonesia kali ini bermula dair sebuah kerajaan di negeri antah berantah. Dahulu kala ada seorang raja yang bernama raja Diandras, Raja ini sangat arif dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya. Sampai suatu saat raja mengalami sakit yang parah, berpuluh-puluh tabib dari negeri seberang didatangkan dari negeri seberang untuk mengobati penyakit sang raja, namun tidak satupun yang berhasil mengobati dan menyembuhkan penyakit sang raja. Akhirnya diadakan sayembara kerajaan yang di umumkan di tengah alun-alun kerajaan.

Sayembara itu berbunyi, barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit raja, akan diberikan hadiah, jika ia (pemenang sayembara) adalah laki-laki maka ia akan diangkat menjadi pangeran sebagai pengganti raja kelak, dan jika ia perempuan maka ia akan dijadikan permaisuri raja.

Setelah itu berdatanglah para tabib dan orang pinta dari segala penjuru negeri, ada yang datang dengan menggunakan perahu melintasi lautan ada pula yang menyebrang sungai, ada pula yang menggunakan kesaktian dengan terbang diatas awan.

Namun semua peserta sayembara yang datang untuk mengobati sang raja akhirnya gagal untuk menyembuhkan raja. Hingga pada suatu hari datanglah seorang pemuda masuk kedalam istana.

Sesampainya dipintu istana, pemuda itu disambut oleh 2 orang penjaga pintu gerbang istana yang berbadan tinggi dan tegap. "Berhenti kisanak, ada tujuan apa engkau hendak memasuki istana raja", tanya penjaga kepada pemuda itu. Dari penampilannya pemuda itu tampak sangat lusuh, bajunya compang-camping dan mukanya kotor serta tubuhnya sangat bau sekali.

"Aku ingin menemui raja dan ingin menyembuhkan baginda raja", kata pemuda itu sambil membungkuk dan menunjukkan sebuah bungkusan kepada para penjaga. Sontak para penjaga langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pemuda itu. "Haahaha..bagaimana mungkin kau bisa menyembuhkan raja, sedangkan kau saja tampak jorok dan mirip seperti orang sakit, haha", kata penjaga sambil tertawa memegangi perut mereka.

"Tapi raja kalian sedang sekarat, apakah tidak boleh hamba menyembuhkan baginda raja?", sontak langsung para penjaga langsung melotot mendengar perkataan si pemuda tadi. "Hei anak muda, lancang sekali kau berkata raja kami sedang sekarat!", "Oh ya silahkan saja engkau lihat sendiri, bukannya sayembara ini diadakan untuk menyembuhkan raja?".

Mendengar keributan yang terjadi di pintu gerbang, salah satu perdana menteri kerajaan menghampiri, "Ada apa gerangan, wahai pengawal?". Tanya sang menteri kepada penjaga.

"Ini tuanku, ada anak muda yang ingin mengobati sakit baginda raja Diandras, tapi dari penampilannya dia sangat tidak meyakinkan". "Baik, bawa masuk dia kedalam istana", kata sang menteri.

Singkat cerita si pemuda ini masuk kedalam istana, kemudian ia memberikan sebuah isyarat kesembuhan kepada sang Raja. "Baginda raja, maafkan hamba yang telah lancang masuk kedalam istana raja, tetapi ijinkan hamba memberitahukan bahwa sakit baginda raja hanya bisa diobati oleh bunga kembang sepatu raksasa, dan bunga itu hanya bisa diambil oleh orang yang paling jujur di kerajaan ini".

Sehari setelah pemuda itu datang, keesokan harinya berbondong-bondong rakyat keraajaan itu mendatangi bunga kembang sepatu yang ada di dalam hutan, tak satupun bisa menghampiri bunga tersebut.

Sampai akhirnya ada seorang kakek tua, datang dan memetik bunga kembang sepatu tanpa ada halangan yang berarti. Si kakek lalu dibawa dan diboyong oleh pengawal istana dan memberika obat yang berasal dari kembang sepatu untuk diminum oleh sang Raha Diandras.

Dan akhirnya rajapun sembuh, dan sikakek tidak meminta satupun hadiah yang ditawarkan oleh sang raja, hanya ada satu permintaan sang kakek, yaitu ia ingin raja tetap memerintah negeri ini dengan lebih arif dan bijaksana lagi. Raja kemudian meneteskan air mata, ia tidak mengira di negeri ini masih ada orang yang ikhlas memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan.

Akhirnya sang kakek diangkat menjadi penasihat raja, dan raja Diandras pun kembali memerintah sebagai raja di negeri yang adil, damai dan sentosa bagi rakyatnya. Hikmah dari dongeng anak kali ini adalah kita harus menjadi pribadi yang jujur dan sederhana. Sebab dengan kejujuran maka semua kebaikan akan datang kepada kita.
Sumber : http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/07/dongeng-anak-indonesia-kisah-bunga.html

Kisah si Kancil Petani Dan Buaya

Si kancil yang licik dan cerdik adalah tokoh favorit di blog dongeng anak indonesia ini. Sebagai tokoh dongeng anak yang sering membuat petani sangat marah ketika si kancil mencuri ketimun, juga membuat sang buaya lemah tidak berdaya ketika di tipu oleh kelicikan si kancil. Nah Kali ini si kancil akan mendapatkan pelajaran dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya.

Suatu pagi, pak petani sedang menanam biji ketimun di belakang rumahnya. Lalu datanglah si kancil menemui pak petani tersebut. "Selamat pagi, pak?", kata si kancil. Mendengar kancil datang, spontan saja si petani marah dan mengusir si kancil. "Apa yang ingin kau lakukan diladang milikku?" tanya si petani kepada si kancil. "Oh, maaf pak petani kalau aku mengagetkan, kedatangan ku kemari adalah ingin melihat bagaimana cara menanam biji ketimun, pak", kata si kancil.

"Tidak perlu kau lihat cara menanam biji ketimun ini, sebab nanti pasti kau curi ketimun yang sudah masak" kata petani kepada si kancil. "Ah, masak tidak percaya pak, kedatangan ku kemari untuk belajar bercocok tanam, sebab aku sudah jera mencuri ketimun milik bapak".

Walaupun si kancil berusaha membuat petani percaya bahwa dirinya tidak akan mencuri lagi, dan ia ingin sekali bertanam ketimun namun akibat ulah kancil yang suka mencuri ketimun, akhirnya kancil tidak mendapatkan ilmu dari petani itu bagaimana bercocok tanam ketimun.

Kemudian si kancil pergi menuju sungai dan bertemu dengan buaya. Buaya juga termasuk korban sikancil yang sering di perdaya oleh kelihaian dan kelicikan tipu daya si kancil. Melihat kancil mendekat, buaya langsung menghardik si kancil. "Hai kancil, ada apa gerangan kau datang ke rumah ku?" Tanya si buaya. Kancil melihat buaya sedang santai dengan memakai baju berbahan wool yang sangat bagus menjadi sangat tertarik untuk belajar membuat baju dari wool yang dipakai oleh buaya.

Buaya tetap tidak percaya perkataan si kancil, dan si kancil berlalu menjauhi buaya. Dengan penuh penyesalan akhirnya si kancil mencoba merenung dan berfikir apa yang terjadi. Ternyata si kancil faham bahwa perbuatan buruknya membawa keburukan juga bagi dia. Barang siapa yang menabur kebaikan pasti akan menuai kebaikan dan barang siapa yang berbuat jahat pasti orang lain akan berbuat jahat kepada kita.

Akhirnya keesokan harinya si kancil belajar menanam biji ketimun sendiri hingga pada akhirnya bisa panen dan membawa hasil panennya kepada si petani. Pak petani sangat kaget menerima ketimun yang sudah masak dan sangat senang kepada si Kancil. Bagitu pula si kancil mencoba membuat baju serta topi dari bahan wool untuk diberikan kepada si buaya. Dan akhirnya buaya serta pak tani menjadi sangat menyenangi si kancil yang sudah berubah untuk tidak nakal dan mencuri lagi.

Hikmah dari dongeng anak indonesia ini adalah janganlah berbuat kejahatan jika kita tidak ingin orang lain jahat kepada kita. Apa yang kita tanam pasti akan kita tuai pada suatu saat, dan pastikan kita menanam kebaikan kepada orang lain sehingga orang lain mau berbaik sangka kepada kita. 
Sumber : http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/07/dongeng-anak-indonesia-kisah-si-kancil.html

Petani Jagung Yang Beruntung

Alkisah di sebuah desa yang sangat kering, hiduplah seorang petani jagung yang sangat sabar dalam menjalani hidupnya. Di desa yang sangat kering itu, jarang sekali hujan yang turun disana hingga bisa dihitung berapa kali hujan yang turun dalam setahunnya. Petani tersebut tinggal disebuah bukit hutan jati yang meranggas daun-daunnya. Desa tersebut hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga karena banyak penduduk yang sudah berpindah ke desa lain akibat kekeringan yang melanda desa itu.

Pada suatu hari, petani tadi hendak jalan ke kebun jagung yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya. Dalam perjalanan dia menemukan sebuah pohon jati yang nampak miring. dia berhenti sebentar di pohon jati tersebut sambil memperhatikan dengan seksama. Ternyata dibawah pohon jati ada sebuah kendi yang berisi air.

Karena merasa sangat haus, sang petani tadi sangat ingin meminum air yang ada di dalam kendi tersebut. Namun karena sadar kalau air itu mungkin ada yang punya, akhirnya si petani tadi mengurungkan niatnya, kemudian ia melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah beberapa kilometer berjalan, petani tadi menemukan sebongkah emas yang sangat mengkilat dari kejauhan, tergopoh-gopoh si petani berlari ingin melihat benda apa yang sangat mengkilat tadi, ternyata setelah di dekati, petani tadi sangat terkejut melihat ada sebongkah emas yang sangat besar. Petani itu sangat tergiur dengan emas tadi, tapi terlintas kembali di benaknya bahwa barang tersebut bukan miliknya, "mungkin saja ada orang yang kehilangan emas ini", ditaruhnya kembali emas tadi, kemudian petani tadi kembali berjalan.

Hingga sebelum sampai di kebun jagung miliknya, petani tadi melihat sebuah ranting yang menghalangi jalan yang dilaluinya, dengan susah payah ia memindahkan ranting yang cukup besar tadi ke pinggir jalan.

Sesampainya di kebun jagung, si petani beristirahat di sebuah pohon yang cukup rindang daunnya. Tanpa disadari ternyata pohon tersebut adalah pohon yang belum ia lihat sebelumnya. Ia pun terkejut dan bertanya di dalam hati. "Bagaimana mungkin di daerah yang tandus begini ada sebuah pohon yang sangat rindang?", ia pun mengelilingi pohon tersebut sambil terheran melihat pohon tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara, "Wahai petani, kau sangat jujur dan baik hati. Aku sangat menghargai sikapmu yang sabar dan tidak mengambil yang bukan milikmu. Kini engkau boleh menikmati semua yang ada di kebun jagung mu ini". Terkejut sekali petani mendengar suara tersebut, ia bertanya-tanya apakah ia dalam mimpi.

Kemudian ia bergerak ke kebun jagungnya dan mulai mencabuti jagung yang sudah bisa dipanen olehnya. Alangkah terkejut si petani mendapati jagungnya sangat bagus sekali, karena selama ini panen jagungnya sangat mengecewakan, banyak jagung yang kering dan bongkolnya kecil serta banyak yang busuk. Si petani pulang dengan senang dan gembira mendapatkan hasil panen yang bagus hari ini

Hikmah dongeng anak kali ini adalah jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, jika kita tetap bersabar dan terus berusaha, pasti suatu saat kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan kebajikan yang kita kerjakan. 
Sumber :  http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/10/dongeng-anak-indonesia-petani-jagung.html

Kisah si Badu Anak Nakal Dan Pohon Mangga Tua

Alkisah ada sebuah desa yang dikenal dengan kampung mangga disebuah negeri antah berantah, kenapa desa itu disebut kampung mangga, sudah pasti desa tersebut terkenal dengan hasil buah mangga yang sangat manis dan harum sekali. Tak jarang banyak sekali orang dari kampung tetangga yang datang untuk membeli mangga dari kampung mangga yang sangat terkenal manis dan harum itu.


Selain terkenal dengan kampung mangga, ternyata di kampung mangga ada sebuah pohon mangga yang sudah sangat tua sekali. Mangga yang dihasilkan oleh pohon tua itu sangat manis, sehingga pohon tua itu sangat disukai oleh warga kampung mangga bahkan dirawat dengan baik.

Pada suatu hari ada seorang anak yang sangat terkenal nakal di desa itu, Badu namanya. Badu terkenal sangat nakal di kalangan teman-teman sekolahnya, Badu sering sekali bolos sekolah dan tertangkap basah sedang mencuri mangga dari pohon seorang tetangganya.

Suatu hari, setelah bel pulang sekolah, badu mengajak teman-temannya mencuri buah mangga dari pohon mangga tua yang ada di pinggiran desa. Teman-temannya mengetahui kalau pohon yang ditunjuk badu adalah pohon mangga tua yang sangat dirawat oleh warga kampung mangga, namun Badu tidak mengetahuinya.

Sangat kesal karena tidak ada teman yang menemaninya untuk memetik mangga, akhirnya Badu nekat berangkat sendiri ke pohon mangga tua siang itu.

Sesampainya disana Badu melihat betapa mudahnya mangga-mangga manis itu dipetik, karena sangat dekat sekali jaraknya dari tanah. Kemudian badu meloncati pagar yang mengelilingi pohon mangga tua itu.

"Heran aku, pohon mangga setua ini kok tidak ada yang memetiknya?", gumam Badu melihat pohon mangga tua.

Ternyata Badu tidak mengetahui kalau ternyata Pohon mangga itu tidak boleh sembarangan kalau ingin memetiknya. Ada sebuah pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh warga kampung mangga jika ingin memetik mangga dari pohon mangga tua itu, yaitu pohon mangga tua hanya boleh di petik jika meminta ijin kepada kepala adat yang ada di kampung itu. Itulah sebabnya teman-teman Badu tidak ada yang mau menemani Badu memetik mangga dari pohon tua itu.

Memang dasar Badu anak yang nakal, dia tidak menghiraukan larangan teman-temanya, ia malah nekat memetik beberapa buah mangga dari pohon mangga tua itu.

Beberapa hari kemudian, warga kampung mangga dikejutkan oleh kejadian yang aneh, mereka menemukan pohon mangga yang mereka tanam di depan rumah mereka menjadi kering semua. Spontan mereka kaget dan berkumpul di depan rumah kepala adat kampung itu.

"Ada seseorang yang telah lancang memetik mangga dari pohon mangga tua yang ada di pinggir kampung", nada kepala adat sangat marah sekali. Semua warga kampung saling berpandangan satu sama lain, "siapa ya" mereka bergumam.

Tak ada satupun yang mengaku, sampai akhirnya kepala adat berkata, "Hanya ada satu cara untuk mengetahui siapa yang telah mencuri mangga dari pohon mangga tua itu, dia akan merasakan sakit perut yang amat sangat 7 hari setelah ia memakan mangga itu, dan sampai akhirnya ia tidak bisa ditolong lagi."

Badu yang mendengar kutukan pohon mangga seperti tersambar petir di siang hari, sontak dia langsung melompat kedepan kerumunan para warga, "Aku...aku..aku yang memetiknya pak.." Teriak Badu sambil terisak-isak menangis. "Tolong jangan sampai kutukan itu terjadi kepada aku", Pinta Badu kepada kepala adat sambil menunduk dan mencium kaki kepala adat.

Akhirnya setelah mengakui kesalahannya, kini si Badu sadar bahwa ia telah melakukan hal yang salah. Danj kutukannya berhasil dicabut. Kini Badu menjadi anak yang baik dan tidak mencuri mangga dari pohon tetangganya lagi.

Hikmah dari dongeng anak kali ini adalah janganlah kita mengambil yang bukan hak kita serta patuhilah norma-norma yang ada disekeliling kita, jangan pernah mengabaikan hal yang sekecil apapun yang ada di sekeliling kita karena bila dilanggar akan fatal akibatnya. Mari hidup dengan penuh kejujuran dan kedamaian. 
Sumber :  http://dongenganakindonesia1.blogspot.com/2012/11/dongeng-anak-indonesia-kisah-si-badu.html